Pengajian Tanpa Nama; Proses Kristalisasi Kader Yang Berkelanjutan
Banda Aceh, Ba’da magrib, sausana lantai II Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, terasa hening dan sepi. Disana terlihat beberapa jamaah lagi bertafakur, zikir, dan ada juga yang sedang melanjutkan dua raka’at sholat sunat ba’da magrid. Dinatara keheningan malam, tanpa seorang aktivis muda yang berjas hitam yang bergegas dan mengajak teman-temannya untuk berkumpuk dan duduk melingkar. Sepertinya lingkaran duduk tersebut sudah direncananya dengan rapi, dan diantara ruang lingkar ada ruang duduk kosong yang sengaja diperuntukan pada tamu yang sedang mereka tunggu-tunggu. Tak lama kemudian, sang tamu yang ditunggu datang dengan dua kitab ditangannya. Beliau adalah Bapak DR. H Aslam Nur, MA (Pakar Atropolog), lulusan Sarjana Muda di Mesir, lulusan S2 Australia dan S3 di UGM Yogjakarta
Aktivis muda yang berjas hitam tadi adalah Immawan Fiqih Purnama, salah satu inisiator “Pengajian Tanpa Nama” yang diperuntukan untuk kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Banda Aceh. Menurut Immawan Fiqih, Pengajian ini diiinisiasi oleh rekan-rekan aktivis IMM diantaranya Immawan Akmal, Abi, Akbar, Fuji, Yeyen, Elvi, Hidayat, dll. Kagiatan ini merupakan proses kritalisasi kader-kader muda Muhammadiyah yang ingin mempertajam pengetahuannya dibidang kegamaan yakni “Islam-Kemuhammadiyah”. Dan Bapak DR H Aslam Nur, MA yang sering disapa oleh anak-anak muda Muhammadiyah “Om Aslam”, malam ini akan mendampingin proses pengajian ini dengan tema “ Ketauhidan”. Dan ini adalah pertemuan kedua dengan beliau, yang sebelumnya juga mendampingi pengajian dengan tema “Akidah Islam”. Dan Kopetensi kegamaan-keilmuan beliau sudah tidak diragukan lagi, terutama tentang pemahaman “islam-Kemuhammadiyah”, dan beliau selain sebagai seorang pakar Atropolog, juga Aktivis Muhammadiyah yang saat ini salah satu Pengurus Harian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.
Dalam pengajiannya, DR H Aslam Nur, MA memaparkan konsep “Tauhid Rububiyah dan Pengakuan Orang-orang Musyrik terhadapnya”. Tauhid, sebut beliau adalah meyakini keesaan Allah Swt, dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifatNya. Dengan demikian. Tauhid ada tiga macam yakni : Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, serta Tauhid Asma’ wa Sifat.
Tauhid Rububyah yaitu, mengesakan Allah swt dalam segala perbuatanNya, dengan menyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Hal ini sebagaimana firmanya, “Allah menciptakan segala sesuatu..” (Az-Zumar: 62). Dan ayat yang lain Allah juga menyampaian pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Sebagaimana firmanya “Dan tidak ada sautu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizki,...” (Hub: 6). Dan di ayat yang lain. Allah menerangkan bahwa Dia adala penguasa alam dan pengantur semesta, Dia mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Pengantur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan mematikan sebagaimana Allah jelaskan dalam surat Ali Imran : 26-27. Dan Allah juga yang menyatakan kesaanNya dalam rububyiahNya atas segala alam semesta. “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam” (Al-Fatihah;2). Lalu pertanyaan, kritisnya adalah apakah seseorang yang sudah mengimani Tauhid Rububiyah sudah dianggap bertauhid?..(bersambung..)
Comments
Post a Comment